Tatkala memeluk Islam, Schoemaker terbilang aktif dalam organisasi Islam. Dia tercatat sebagai Wakil Ketua Western Islamic Association di Bandung. Dia juga menulis buku bersama tokoh Persatuan Islam (Persis), Mohammad Natsir, yang berjudul Cultuur Islam pada 1937. Nama Schoemaker di muka buku itu ditulis sebagai Prof Kemal C.P. Wolff Schoemaker. Dalam buku itu, Schoemaker memuji karakter Islam yang humanis, toleran, dan mendorong perkembangan ilmu pengetahuan. Dia juga menjelaskan sejarah arsitektur masjid dunia, dari Jazirah Arab hingga India. ”Rupa kekuatan Islam bisa dilihat dari pembangunan masjid.” Schoemaker juga mengkritik masjid yang ada di Indonesia, yang menurut dia, ”Sederhana, miskin, tidak mempunyai kekuatan dan keindahan yang diciptakan oleh Islam di tempat lain.” Hal ini kontras dengan potensi umat Islam Indonesia yang berjuta-juta jiwa. Sebelum buku itu ditulis, Schoemaker membangun Masjid Nijlandweg (Masjid Raya Cipaganti) pada 1933. Namanya tercantum dalam prasasti di masjid itu.

Baca Juga : kota-bunga.net

Mahasiswamahasiswa Schoemaker membantu dengan membuat besi tempa dan kayu untuk masjid dengan sokongan Laboratorium Keramik di Bandung. Bagaimana masjid itu bisa dibangun di daerah elite Belanda itu masih jadi misteri. Yang jelas, Schoemaker memadukan arsitektur Jawa, pengaruh Timur Tengah, dan gaya modern Eropa dalam masjid itu. Schoemaker menjalankan ibadah haji pada Desember 1938. Ibadah itu dilakukan tak lama setelah dia berlayar ke Belanda menggantikan adiknya, Richard, sebagai pengajar di Technische Hogeschool Delft selama setahun. Schoemaker membawa istrinya, Croontje, dan Nachita, putrinya, dalam perjalanan itu. Mereka sempat singgah di Kairo, Mesir. Selama masa pendudukan Jepang, Schoemaker dilindungi imam masjid Muhammadiyah dari Jepang. Nachita juga menyebut ayahnya merupakan anggota dari salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia itu. Schoemaker juga bergabung dengan Persatoean Oemmat Islam tak lama setelah perang. Setelah pendudukan Jepang, Nachita tinggal kembali dengan ayahnya. Dia ingat bahwa ayahnya beberapa kali menggelar pesta dengan rijstafel prasmanan Indonesia dengan gaya Belanda di rumahnya di Nijlandweg, Bandung. ”Banyak sekali orang Indonesia yang hadir.

Kami, orang Belanda, tidak punya tradisi untuk menerima tamu di rumah. Jadi saya kira Ayah lebih banyak melakukan pertemuan dengan kawankawannya di masjid, di kampus, atau tempat-tempat sosial lain.” Pada 1948, setahun sebelum kematiannya, Schoemaker sempat berkirim surat kepada Sukarno, yang kala itu telah menjadi Presiden Republik Indonesia. Dia mendorong anak didiknya itu untuk mengubah negara Indonesia menjadi kesultanan Islam Indonesia. Menurut dia, hanya kohesi muslim yang mampu menyatukan Indonesia. Dia juga menyebutkan keinginannya untuk bekerja sebagai arsitek lagi dan berencana membangun konsultan konstruksi bersama R. Roosseno Soerjohadikoesoemo, salah satu anak didiknya. Keinginan itu tidak terlaksana. Schoemaker mengalami perdarahan di otak. Pada masa itu, dia kecewa karena tak banyak orang dari kalangan Muhammadiyah yang datang dan mengontak. ”Yang saya ingat, hanya ada sepasang suami-istri dari Muhammadiyah yang secara teratur menjenguk ayah saya. Saya masih ingat wajah mereka. Sukarno murid kesayangannya tidak pernah menengok,” kata Nachita.

Dalam sakit yang semakin berat, Schoemaker terus mengajar. ”Murid terakhirnya adalah sepasang suami-istri Tionghoa yang secara khusus datang ke rumah kami.” Di ranjang kematiannya, Schoemaker meninggal sebagai Protestan. C.J. van Dullemen menduga berpindahnya Schoemaker lebih merupakan upaya untuk memenuhi keinginan keluarganya ketimbang keinginannya sendiri. Apalagi Jetty, istri terakhirnya, dalam surat-suratnya kepada keluarga di Belanda, sempat menyebutkan bahwa Schoemaker banyak menderita dan mulai mengalami kebingungan mental. Namun hal ini dibantah Nachita. Menurut dia, selama ayahnya sakit, ”Ada seorang pendeta Protestan yang selalu setia mendampingi. Tampaknya situasi ini berpengaruh sehingga ia meninggal sebagai Protestan.” Schoemaker meninggal pada 22 Mei 1948. Dia dikebumikan di Permakaman Pandu, Bandung. Sukarno disebut sebagai orang yang merancang nisan sederhana untuk gurunya itu.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *