Jendral Polisi yang di Pusaran Perkara

Bagi polisi, kasus ini bukan perkara biasa. Dari kesaksian Nick serta Direktur PT Pradiksi dan PT Senabangun Ihwan Muhamad Limanto ke penyidik, terungkap pengakuan adanya aliran dana dari perusahaan kepada dua jenderal polisi atas permintaan Suryo Tan. Keduanya adalah Komisaris Jenderal Budi Gunawan, saat itu Kepala Lembaga Pendidikan Kepolisian, dan Inspektur Jenderal Anas Yusuf, saat itu Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur.

Saat diperiksa penyidik Polres Jakarta Selatan pada 15 Agustus lalu, Nick mengatakan, pada kurun 6-17 Juni 2014, Suryo meminta petinggi PT Pradiksi mencairkan dana Rp 14 miliar. Nick kepada penyidik mengatakan Suryo menyebut uang untuk Budi Gunawan sebagai ”biaya” memperlancar urusan pembelian kuasa penambangan batu bara PT Bumi Petangis. Izin tambang ini berada di dalam area lahan perkebunan PT Pradiksi. Menurut salinan dokumen yang diperoleh Tempo, PT Pradiksi mendapatkan hak guna usaha untuk perkebunan kelapa sawit pada 1998, yang berlaku sampai 2033. Belakangan, ada pihak lain yang mendapat izin kuasa pertambangan di area tersebut.

Menurut Nick, masalah tumpang-tindih ini mulai terjadi pada awal 2011. Karena membutuhkan orang yang bisa membereskan persoalan ini dengan cepat, kata Nick, perusahaannya merekrut Suryo. Menurut Nick, Suryo dipakai karena mengaku dekat dengan para penegak hukum dan pejabat di Jakarta. Suryo juga mengaku dekat dengan sejumlah petinggi kepolisian. Nick mengatakan pernah diperkenalkan Suryo dengan Budi Gunawan di sebuah restoran di Bali pada akhir November 2012. ”Itu pertama kali saya bertemu dengan Budi Gunawan,” ujarnya. ”Ketika itu, ia menjabat sebagai Kapolda Bali.” Karena Suryo memiliki rekam jejak dekat dengan polisi, Nick meyakini permintaan uang untuk Budi Gunawan bukan klaim Suryo.

Apalagi urusan pembelian kuasa penambangan batu bara PT Bumi Petangis memerlukan dukungan dari ”orang kuat” karena sejak awal proses negosiasinya alot. Perusahaan itu menguasai lahanseluas 5.000 hektare di dalam area perkebunan PT Pradiksi. ”Dua hari setelah dana dicairkan, Suryo mengatakan kepada saya, duit itu sudah disampaikan ke Budi Gunawan,” katanya. Menurut keterangan Nick kepada polisi, uang Rp 14 miliar itu dikirim PT Pradiksi melalui rekening sebuah bank di Singapura nomor 503151334XXX ke rekening perusahaan Suryo, PT Multicorp Resources Mandiri, nomor 197-02-00049-XX-X di sebuah bank swasta pada Juni 2014. Secara bertahap, dana itu dipindahkan ke rekening sebuah perusahaan penukaran valuta asing di salah satu bank swasta.

Diketahui rekening itu untuk pencairan giro. Menurut dokumen yang diperoleh Tempo, di bilyet giro yang sudah dicairkan dan nilainya Rp 200- 300 juta, tertera tulisan tangan ”untuk BG, bantuan PT Bumi Petangis”. Bonggol bilyet gironya bernomor AAT 964576-964600 dan AAT 934851-AAT 934875. Sedangkan untuk Anas Yusuf, menurut Nick, Suryo menerima dana dari perusahaannya sebesar Rp 6,05 miliar. Sesuai dengan salinan catatan dan bukti pengeluaran yang diperoleh Tempo, pencairannya bertahap mulai 26 Juni sampai 3 Juli 2016. Duit itu untuk biaya memperlancar urusan pembelian kuasa penambangan batu bara PT Lentera Inti Prima seluas 5.000 hektare di atas lahan PT Senabangun, yang prosesnya selalu alot.

Uang itu dikirim PT Senabangun melalui rekening sebuah bank di Singapura nomor 503151334XXX ke rekening sebuah money changer di sebuah bank swasta nomor 501193288XXX dan ditransfer ke rekening PT Multicorp di sebuah bank swasta nomor 197-02-00049-XXX. Duit tersebut lalu dikirim ke rekening istri Suryo dalam tiga tahap di sebuah bank swasta nomor 3110100461XXX. Menurut dokumen bukti penarikan bilyet giro yang diperoleh Tempo, uang itu secara bertahap diambil tunai. Dari data payment voucher PT Multicorp Resources Mandiri, uang diserahkan bertahap. Pada 26 Juni, misalnya, dicairkan Rp 1,05 miliar. Menurut dokumen yang diperoleh Tempo, dalam payment voucher itu ada tulisan tangan ”for Anas (pol)”. Pada bonggol salah satu bilyet giro dengan nomor AAP 492576 sampai AAP 492600 tertera tulisan tangan yang sama. Menurut Nick, dua hari setelah itu, ia mendapat jawaban dari Suryo bahwa uang telah sampai ke Anas.

 ”Pencairan baru bisa dilakukan setelah dua pekan Anas naik menjadi Wakil Kepala Bareskrim Polri,” ujar Nick menirukan ucapan Suryo. Ditemui di Istana Negara pada 7 Desember lalu, Budi Gunawan tidak menggubris pertanyaan Tempo tentang tuduhan aliran dana dari Suryo itu. Kepala Badan Intelijen Negara ini langsung bergegas menaiki mobil golf dan hanya melambaikan tangan. Surat permohonan wawancara yang Tempo kirim ke kantor dan rumahnya juga belum direspons. Adapun Anas Yusuf membantah pernah membantu dan menerima uang dari Suryo. ”Itu tuduhan ngaco,” katanya. Suryo Tan menyangkal tuduhan pemberian uang kepada Budi Gunawan dan Anas Yusuf. Dia menyebut tuduhan itu sebagai upaya pembunuhan karakter. Saat ditanyai apakah dekat dengan dua jenderal itu, Suryo menjawab diplomatis, ”Nanti saya cerita di waktu dan kesempatan lain.”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *