Sulitnya melacak karya-karya Schoemaker di Indonesia ini lantaran tidak adanya arsip lengkap. Sebagai peneliti, arsitek, dan seniman, sesungguhnya Schoemaker menyimpan lengkap semua arsip, dokumen, dan hasil penelitiannya di rumahnya di Van Galenweg 2 (kini Jalan Lamping, Bandung). Tapi, menjelang masa pendudukan Jepang, rumahnya menjadi sasaran anarki. Rumah Schoemaker beserta isinya dibakar. ”Schoemaker menghasilkan karya yang sering berbeda-beda,” kata dosen arsitektur ITB, Bambang Setia Budi, April lalu. Pada Vila Isola, dia memadukan gaya Art Deco dengan gaya De Stijl. Pada Masjid Cipaganti, dia menggunakan prinsip pendapa Jawa. Sedangkan pada Hotel Preanger, dia menekankan aksen vertikal-horizontal. Pada karya lain dia menerapkan ornamen lokal seperti Kala Makara. ***

PADA 2005, dosen desain ITB, Dibyo Hartono, memperoleh penghargaan UNESCO Asia-Pacific Heritage Award for Culture Heritage Conservation 2000-2004. Penghargaan pertama untuk Indonesia itu diberikan atas upayanya merestorasi rumah di Jalan Sawunggaling Nomor 2, Bandung. Dibyo tidak dibayar untuk proyek Rp 100 juta yang dikerjakan selama enam bulan bersama mahasiswa-mahasiswanya itu. Dalam laporannya ke UNESCO, Dibyo menduga bangunan tersebut merupakan tempat tinggal Schoemaker. Dugaan itu berdasarkan buku Architectuur & Stedebouw in Indonesië 1870-1970 karya Huib Akihary, yang menyebutkan bahwa rumah di Bosschaplein (Jalan Sawunggaling) merupakan karya Schoemaker pada 1933. Rumah itu juga memiliki ornamen sulur. Tapi, dalam buku Tropical Modernity, C.J. van Dullemen mengungkapkan tidak ada bukti rumah ini merupakan kediaman sang arsitek kondang.

Pada 1927, Schoemaker dalam suratnya kepada putrinya, Lucie, mengatakan dia tinggal di Lembangweg (Jalan Cihampelas). Pada 1930-an, dia tinggal rumah yang dirancangnya sendiri di Van Galenweg (Jalan Lamping). Nachita, satu-satunya putri Schoemaker yang masih hidup, juga tidak mengetahui perihal rumah di Jalan Sawunggaling. Setelah kebakaran yang menghanguskan rumah mereka di Jalan Lamping, Schoemaker sempat tinggal di lantai dua rumah sewa di Jalan Braga, sebelum tinggal di Nijlandweg (Jalan Cipaganti) hingga akhir hayatnya. ”Persisnya sekitar 100 meter di seberang Masjid Nijlandweg. Di perempatan Nijlandweg dengan Eijkmanweg (Jalan Prof Eijkman, Bandung),” kata Nachita kepada Tempo.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *