“Penyakit” Nomophobia ala autotrade gold – Riset yang digelar Facebook tempo hari untuk me- motret perilaku remaja di beberapa negara ter- masuk Indonesia di rentang usia 13 – 24 tahun menyebutkan data cukup mengejutkan. Silakan interpretasi menurut Anda masing-masing. Boleh positif, tak salah juga negatif. Salah satu temuan data menyebutkan bahwa 84 persen remaja tidak dapat meninggalkan rumah tanpa ponsel mereka. Artinya, mereka ini wajib hukumnya menggenggam ponsel ketika pergi.

Kita jadi ingat berbagai kejadian, yang bahkan juga menjangkit orang dewasa, bahwa orang merasa lebih baik ketinggalan dompet daripada ponsel. Kita panik ketika tak bisa melakukan apa-apa karena ponsel tak ada. Sebagian aktivitas terganggu. Celakanya, di kehidupan serba modern ini, ternyata kasus di atas masih termasuk “normal”. Belum apa-apa. Beberapa akademisi dari Iowa State University, Amerika melihat telah muncul sebuah gejala baru di mana orang tak hanya panik ketika tak menggenggam ponsel. Mereka ketakutan, dari level biasa sampai luar biasa. Sebuah studi yang dilakukan UK Post Office mendefinisikan mereka yang mengalami peristiwa seperti ini disebut telah terjangkit Nomophobiasbuah akronim dari “No Mobilephone Phobia”.

“Nomophobia mengacu pada fobia di era modern di mana kehidupan kita terkesampingkan oleh interaksi antara manusia dengan informasi lewat mobile dan teknologi komunikasi, khususnya produk smartphone,” jelas Caglar Yildirim, peneliti dari Iowa State University agak mendetil. Orang yang fobiapada level ini akan merasa tak bisa berkontak dengan orang lain. Apalagi ketika berada di suatu tempat asing, ia tak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan ponsel. Efeknya secara mental mulai terganggu, diawali dari panik, kesal, marah, lalu timbul rasa takut. Tim Iowa State University kemudian ingin melakukan identifikasi. Kira-kira semacam diagnosa kepada siapapun yang mengalami gejala seperti di atas. Caranya cukup sederhana.

Mereka membuat kuisioner berisi 20 pertanyaan. Masing- masing dilengkapi dengan tujuh level pilihan. Langkah selanjutnya adalah membuat kluster tingkat keparahan Nomophobia. Kuisioner ini telah diujicobakan ke lebih dari 300 responden. Memang, Yildirim dkk. tidak mempublikasikan temuan dari 300 orang yang jadi tester. Namun, kuisioner ini sangat relevan dengan kondisi yang terjadi belakangan ini, di mana banyak orang sulit lepas dari smartphone. Nah, apakah Anda punya gejala seperti indikasi di atas? Rasanya Anda perlu mencoba mengisi kuisoner berikut untuk sekadar menguji dan mencari jawaban sudah seberapa parah interaksi Anda dengan smartphone.

Sumber : https://teknorus.com/

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *