Memanjakan anak ternyata tak harus dengan selalu memberinya hadiah dan pertolongan. Sama halnya dengan membuat anak senang juga tak selalu dengan memanjakannya. Maka, usia prasekolah adalah rentang waktu yang pas untuk meninjau kembali apakah pola asuh yang kita terapkan selama ini sudah tepat. Mengajari anak untuk mandiri pun sebetulnya bisa dimulai dari bayi, seperti membolehkan anak makan sendiri (walau pasti berantakan).

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Namun, di usia prasekolah, saat anak menyadari bahwa dirinya adalah seorang individu yang bisa melakukan berbagai hal, ia akan semakin sering berkata, “Mama, aku bisa sendiri!” Nah, tugas kita ialah memberinya kesempatan untuk bisa melakukannya sendiri. Dengan begitu, anak belajar mengenali sejauh mana ia bisa mencoba, sekaligus tahu batasan kemampuannya saat ini. Pada saat ia kesulitan, daripada berkata, “Tuh kan nggak bisa, sini Mama aja!” lebih baik berucap, “Susah Kak, lepasin talinya, mau Mama bantu?”

Jadi, anak akan merasa usahanya dihargai dan sangat terdorong untuk melakukannya lagi lain waktu, bukan malah jadi takut salah dan tidak mau mencoba. Memberikan anak kesempatan juga membuat anak untuk belajar membuat keputusan sendiri, sekaligus keyakinan bahwa ia dapat mengandalkan dirinya sendiri kapan pun dan di mana pun.

AJARKAN MENERIMA KONSEKUENSI Selain itu Mama Papa, membuat anak senang tak melulu harus dengan materi. Menghabiskan waktu bersama untuk bermain robot-robotan atau masak-masakan lebih berkesan bagi anak daripada sekadar menghadiahkan barang. Hati-hati dengan “kebiasaan” mengajak anak pergi ke mal atau mini market membeli sesuatu untuk meredakan kekesalan anak. Si prasekolah bisa membaca pola perilaku kita, lo.

Jika ia kesal karena tidak menbisakan apa yang dia inginkan, maka biarkan ia “menerima” kekesalan itu sebagai bagian dari perasaannya. Kita tak harus langsung memberi apa yang ia mau. Perasaan kesal itu tak bisa disembuhkan dengan imingiming ke mal, tetapi harus dikenali meng apa ia kesal dan bantu ia mengatasinya dengan mengalihkan ke kegiatan favoritnya. Ajari anak untuk menerima konsekuensi dari apa yang ia lakukan. Anak prasekolah umumnya sudah memahami hubungan sebabakibat dan bisa mencerna penjelasan logis dari setiap perilaku yang ia lakukan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *