Tak Perlu Ragukan Kehalalan Vaksin

sat-jakarta.com – Di tengah kebimbangan banyak orangtua muslim dalam menghadapi isu bahwa vaksin mengandung bahan non- halal, Yayasan Cendekia Ikhlas Madani berinisiatif memberikan pencerahan. Lewat seminar setengah hari yang bertempat di Masjid Al-Qolam Islamic Center Iqro, Jati Makmur, Bekasi 24 Mei lalu, dijelaskanlah bahwa vaksin-vaksin tertentu yang dalam pembuat annya menggunakan enzim tripsin babi tidak serta merta menjadikannya berpredikat “haram”.

Baca juga : kursus IELTS terbaik di jakarta

“Membuat vaksin itu tidak seperti membuat puyer; bahan-bahan yang ada semua dicampur jadi satu, termasuk yang mengandung babi dan kemudian digerus menjadi vaksin” kata dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA, ahli penyakit jantung anak dan penggiat imunisasi yang juga mendalami kajian kedokteran dari sudut pandang Islam.

“Yang sebenarnya terjadi, pembuatan vaksin amatlah kompleks, melalui beberapa tahapan, dan tidak ada proses seperti menggerus puyer. Enzim tripsin babi digunakan sebagai katalisator untuk memecah protein menjadi peptida dan asam amino sehingga bisa menjadi bahan makanan kuman. Kuman tersebut setelah dibiakkan kemudian difermentasi untuk diambil polisakaridanya sebagai antigen bahan pembentuk vaksin.

Selanjutnya, dilakukan proses purifi kasi atau pemurnian, yang mencapai pengenceran 1/67,5 milyar kali sampai akhirnya terbentuk produk vaksin. Pada hasil akhir ini sama sekali tidak terkandung bahan-bahan yang mengandung babi, baik secara langsung maupun tidak,” demikian penjelasan Piprim dalam makalah yang dibagikan. Majelis Ulama Indonesia menurutnya sudah mengeluarkan fatwa halal terhadap vaksin meningitis yang pada proses pembuatannya menggunakan katalisator dari enzim tripsin babi. Juga tidak ada seorang pun ulama di negara-negara muslim melarang program vaksinasi.

Tidak hanya bayi dan anak, perempuan dewasa pun sebaiknya melengkapi vaksinasi yang penting untuk melindungi janin seandainya terjadi kehamilan. Ibu Risma yang berbagi pengalaman di acara itu memaparkan, infeksi rubela berdampak sangat parah pada Jafran, bayinya yang kini berusia 20 bulan. Meski tidak terlindung 100%, ibu hamil yang divaksinasi MMR (mumps [gondongan], measles [campak], rubella [campak jerman]), apabila terserang penyakit-penyakit tersebut akan mendapat perlindungan yang jauh lebih baik, sehingga janinnya tetap sehat dan lahir cukup bulan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *