TANTANGAN ADIK SINGA PANJSHIR

D I berewokan—sebagian ada lah komandan pemberontak di masa invasi Uni Soviet—se orang lelaki berkaki satu me hadapan sekumpulan pria- – – raih mikrofon dan menyorongkannya ke bibirnya, supaya suaranya lebih terdengar. ”Kaum Mujahidin akan mencari syahid melawan Taliban,” dia berteriak. Rapat akbar di sebuah tempat di Provinsi Baghlan, bagian utara Afganistan, suatu Senin pada Februari lalu itu dihadiri Ahmad Zia Massoud. Politikus kawakan ini sebenarnya adalah pejabat pemerintah; dia Utusan Khusus Presiden untuk Reformasi dan Pemerintahan yang Baik. Tapi kedatangannya di tempat itu—di panggung, dikelilingi sekelompok tetua berbusana tradisional, dia tak segan-segan berpose untuk melakukan selfie—tak ada sangkut-pautnya dengan urusan kedudukannya. Dia sesungguhnya sedang menggalang kekuatan demi upayanya mengambil alih fungsi-fungsi yang tak bisa dijalankan pemerintah.

Di wilayah utara negara yang hingga kini terancam perpecahan itu, Zia Massoud bukan orang asing. Safarinya ke lima provinsi di sana, seperti digambarkan Sune Engel Rasmussen dalam tulisannya di Foreign Policy dua pekan lalu, mengundang kerumunan orang dalam jumlah besar. Tapi minat orang-orang sebenarnya bukan semata karena dia adalah adik Ahmad Shah Massoud alias Singa dari Panjshir, pemimpin legendaris Mujahidin yang tewas dibunuh Al-Qaidah pada 2001. Pesan-pesan yang diserukannyalah yang disambut orangorang yang kecewa terhadap pemerintah. Dalam pertemuan serupa di Provinsi Takhar, dia berbicara tentang rapuhnya keamanan di bagian utara Afganistan.

”Musuh berusaha menjadikan kawasan utara tak aman. Tapi perang melawan Taliban dan kelompok-kelompok teroris lain adalah perang patriotik dan kewajiban nasional setiap warga negara,” katanya, seperti dikutip Ahlulbayt News Agency. Peringatan Zia Massoud tentang Taliban tak mengada-ada. Kelompok militan yang pernah berkuasa di Afganistan pada 1996- 2001 ini pekan lalu tak hanya mengumumkan bakal menggelar serangan lagi bersamaan dengan datangnya musim semi, tapi bahkan telah memulainya. Mereka melancarkan aksi bom bunuh diri dan serbuan terhadap sebuah markas dinas keamanan di Kabul pada Selasa pekan lalu, menewaskan 64 orang dan melukai 320 orang lainnya. Menurut Zia Massoud, Mujahidin harus mengambil alih kepemimpinan dalam situasi yang disebutnya ”perang habis-habisan” itu.

Berdiam diri, menurut dia, hanya akan mempercepat jatuhnya provinsi-provinsi di wilayah utara ke tangan Taliban. Bisa jadi safari Zia Massoud berkebetulan dengan masa-masa sulit yang harus dihadapi pemerintah. Selain harus mencari jalan keluar dari deraan kemerosotan kinerja ekonomi, beberapa bulan terakhir pemerintah terpaksa kehilangan dukungan dari politikus, pemimpin milisi, mantan menteri, dan berbagai makelar kekuasaan. Berbalik menentang pemerintah, mereka menilai Presiden Ashraf Ghani dan Kepala Eksekutif Abdullah Abdullah terlalu lemah menghadapi Taliban dan tak cakap memerintah. Meski demikian, sebagai tokoh yang sudah berpengalaman di pemerintahan bahkan sejak awal, ketika Afganistan baru lepas dari Uni Soviet, Zia Massoud seperti tahu persis isu apa yang bisa menggerakkan orang.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *